petanimal.org Di berbagai belahan dunia, komunitas pecinta hewan memperingati World Zoothanasia Day sebagai momen refleksi terhadap nasib satwa yang hidup dan mati di kebun binatang maupun fasilitas penangkaran. Hari ini bukanlah perayaan besar yang dikenal luas seperti hari libur nasional, tetapi justru hadir sebagai pengingat sunyi tentang isu serius: bagaimana kesejahteraan hewan diperlakukan di tempat-tempat yang mengklaim menjaga dan melindungi mereka.
World Zoothanasia Day menjadi ruang diskusi penting tentang kenyataan di balik pagar kebun binatang. Di satu sisi, kebun binatang sering dipromosikan sebagai pusat edukasi dan konservasi. Namun di sisi lain, tidak sedikit kasus yang menunjukkan bahwa satwa di dalamnya justru menghadapi tekanan fisik dan psikologis, bahkan berakhir pada kematian yang tragis.
Makna Zoothanasia dan Mengapa Diperingati
Istilah “zoothanasia” merujuk pada praktik mengakhiri hidup hewan di fasilitas penangkaran atau kebun binatang, biasanya karena alasan penyakit parah, kondisi yang tidak dapat disembuhkan, atau kebijakan manajemen tertentu. Meski eutanasia pada hewan terkadang dilakukan untuk mengurangi penderitaan, istilah ini juga memunculkan perdebatan etis yang panjang.
World Zoothanasia Day diperingati untuk mengingat bahwa kematian hewan di kebun binatang bukan sekadar peristiwa biasa. Banyak aktivis menilai bahwa beberapa kematian terjadi akibat kondisi hidup yang tidak ideal, ruang gerak terbatas, stres berkepanjangan, hingga kurangnya standar perawatan yang memadai.
Hari ini dipilih sebagai simbol setelah kasus Packy, seekor gajah Asia yang hidup puluhan tahun di kebun binatang luar negeri sebelum akhirnya dieutanasia karena kondisi kesehatannya memburuk. Kisah tersebut menjadi pemicu diskusi global tentang bagaimana satwa besar hidup dalam keterbatasan ruang dan sistem penangkaran modern.
Kebun Binatang: Konservasi atau Eksploitasi?
Di Indonesia, kebun binatang masih menjadi destinasi populer bagi keluarga dan wisata edukasi. Banyak orang menganggap kebun binatang sebagai tempat anak-anak belajar mengenal satwa. Namun pertanyaan besar terus muncul: apakah kebun binatang benar-benar berfungsi sebagai konservasi, atau justru menjadi bentuk eksploitasi satwa?
Sebagian kebun binatang memang memiliki program penangkaran dan pelestarian spesies langka. Tetapi tidak sedikit pula yang menghadapi kritik karena fasilitas yang kurang memadai, kandang sempit, minim stimulasi lingkungan, serta kurangnya tenaga ahli satwa.
Satwa liar yang seharusnya hidup bebas di habitat luas sering kali harus menjalani hidup dalam ruang terbatas, dikelilingi manusia setiap hari, tanpa kesempatan menjalankan perilaku alaminya.
Masalah Kesejahteraan Satwa di Kebun Binatang Indonesia
Isu kesejahteraan satwa di kebun binatang Indonesia menjadi sorotan karena beberapa kasus kematian dan kondisi hewan yang memprihatinkan sempat viral. Banyak laporan menunjukkan satwa mengalami malnutrisi, stres, penyakit kulit, hingga perilaku abnormal akibat tekanan hidup dalam penangkaran.
Beberapa faktor utama yang sering menjadi masalah meliputi:
- Keterbatasan anggaran operasional
- Kurangnya dokter hewan dan ahli konservasi
- Standar kandang yang belum sesuai kebutuhan satwa
- Pengawasan yang lemah dari pihak berwenang
- Orientasi wisata yang lebih dominan daripada konservasi
Ketika kebun binatang lebih fokus pada jumlah pengunjung dibanding kualitas hidup satwa, maka kesejahteraan hewan sering menjadi korban.
Dampak Psikologis Satwa dalam Penangkaran
Tidak banyak yang menyadari bahwa satwa juga bisa mengalami stres dan gangguan psikologis. Gajah, harimau, orangutan, dan primata lainnya adalah hewan dengan kecerdasan tinggi dan kebutuhan sosial kompleks.
Dalam kondisi kandang sempit dan minim rangsangan, satwa dapat menunjukkan perilaku tidak normal seperti berjalan bolak-balik tanpa henti, melukai diri sendiri, atau kehilangan nafsu makan. Ini menjadi indikator bahwa satwa tersebut tidak hidup dalam kondisi sejahtera.
World Zoothanasia Day mengingatkan bahwa penderitaan satwa bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal mental dan kualitas hidup.
Perlu Reformasi dan Pengawasan Lebih Ketat
Momentum ini seharusnya menjadi pengingat bagi pemerintah, pengelola kebun binatang, dan masyarakat bahwa fasilitas satwa harus memenuhi standar kesejahteraan yang ketat. Kebun binatang idealnya bukan sekadar tempat hiburan, tetapi pusat konservasi yang benar-benar melindungi satwa.
Reformasi yang dibutuhkan antara lain:
- Audit rutin terhadap fasilitas kebun binatang
- Transparansi data kesehatan dan kematian satwa
- Peningkatan standar kandang dan lingkungan alami
- Edukasi publik tentang konservasi yang benar
- Penguatan peran lembaga pengawas satwa
Jika tidak ada perubahan, maka kebun binatang hanya akan menjadi simbol kurungan bagi satwa liar.
Kesimpulan: Pengingat untuk Lebih Peduli Satwa
World Zoothanasia Day bukan hari perayaan, melainkan hari refleksi. Ia mengajak dunia untuk memikirkan ulang bagaimana satwa diperlakukan di fasilitas yang mengklaim melindungi mereka.
Di Indonesia, momentum ini penting untuk mendorong perbaikan sistem kebun binatang agar lebih manusiawi, transparan, dan berorientasi pada kesejahteraan satwa.
Satwa bukan sekadar objek tontonan. Mereka adalah makhluk hidup yang berhak mendapatkan kehidupan layak, bahkan ketika berada dalam fasilitas penangkaran.

Cek Juga Artikel Dari Platform iklanjualbeli.info
