petanimal.org Warga Dusun Bangbayang Kaler, Blok Gondang, Desa Bangbayang, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, dikejutkan oleh peristiwa matinya puluhan ayam ternak dalam satu malam. Ayam-ayam tersebut ditemukan mati berserakan di sekitar kandang dengan kondisi mengenaskan, memicu kekhawatiran akan adanya teror hewan liar yang masuk ke permukiman warga.
Peristiwa ini menjadi pembicaraan luas di kalangan masyarakat setempat karena terjadi secara tiba-tiba dan dalam jumlah yang cukup besar. Bagi warga pedesaan, ayam bukan sekadar hewan ternak biasa, melainkan sumber penghidupan dan tabungan jangka pendek. Kehilangan puluhan ekor ayam dalam semalam tentu menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak kecil.
Kandang Rusak Perkuat Dugaan Serangan Satwa Liar
Ayam-ayam milik warga ditemukan dalam kondisi mati dengan luka yang mengindikasikan adanya serangan. Selain itu, kandang ternak terlihat rusak pada beberapa bagian, seperti pagar bambu yang jebol dan atap yang bergeser. Kerusakan ini memperkuat dugaan bahwa serangan dilakukan oleh hewan buas, bukan penyakit atau kelalaian pemeliharaan.
Warga menyebutkan bahwa ayam tidak menunjukkan tanda-tanda sakit sebelumnya. Kondisi kandang yang rusak menjadi petunjuk utama bahwa ada satwa liar yang masuk dan menyerang secara agresif. Hingga kini, jenis hewan penyerang belum dapat dipastikan, namun dugaan mengarah pada predator alami yang turun dari kawasan hutan.
Gunung Sawal Diduga Jadi Sumber Satwa Penyerang
Lokasi permukiman Bangbayang yang relatif dekat dengan kawasan Gunung Sawal membuat warga menduga bahwa satwa liar turun dari hutan mencari mangsa. Gunung Sawal dikenal sebagai kawasan dengan keanekaragaman hayati yang masih cukup terjaga, menjadi habitat berbagai jenis satwa liar.
Ketika sumber makanan di hutan berkurang atau terganggu, satwa liar kerap mendekati permukiman untuk mencari mangsa yang lebih mudah, seperti ayam ternak. Fenomena ini bukan kali pertama terjadi di daerah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan.
Kepala Desa Benarkan Kejadian
Kepala Desa Bangbayang, Asep Riky Darmawan, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia menjelaskan bahwa kejadian pertama kali diketahui saat penjaga kandang mendatangi lokasi untuk memberi pakan ternak. Saat itu, ayam sudah dalam kondisi mati dan kandang rusak.
Pemerintah desa langsung berkoordinasi dengan warga untuk menginventarisasi kerugian dan mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. Aparat desa juga meminta warga melaporkan jika melihat tanda-tanda keberadaan hewan liar di sekitar permukiman.
Kerugian Ekonomi dan Kekhawatiran Warga
Matinya puluhan ayam tentu berdampak langsung pada ekonomi warga. Bagi peternak kecil, ayam merupakan aset yang bisa dijual sewaktu-waktu untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Kehilangan ternak secara mendadak membuat warga merasa resah dan khawatir akan terulangnya kejadian serupa.
Selain kerugian materi, ada pula kekhawatiran terhadap keselamatan. Warga takut jika hewan liar yang menyerang ayam suatu saat bisa mengancam manusia, terutama anak-anak atau warga yang beraktivitas di malam hari.
Upaya Warga Tingkatkan Keamanan Kandang
Pasca kejadian, warga mulai mengambil langkah-langkah pencegahan. Beberapa di antaranya memperkuat kandang dengan kawat besi, menambah penerangan di sekitar kandang, serta menjaga ternak secara bergantian pada malam hari.
Langkah-langkah ini dilakukan secara swadaya sebagai bentuk antisipasi jangka pendek. Warga berharap ada pendampingan lebih lanjut dari pihak terkait untuk mencari solusi yang lebih permanen dan aman.
Perlu Penanganan Terpadu dengan Pihak Terkait
Peristiwa ini menyoroti pentingnya penanganan terpadu antara pemerintah daerah, aparat desa, dan instansi terkait seperti pihak kehutanan atau konservasi. Identifikasi jenis satwa penyerang dinilai penting agar penanganan dapat dilakukan secara tepat tanpa merugikan ekosistem.
Pendekatan yang diharapkan bukan sekadar pengusiran, tetapi juga upaya mitigasi konflik manusia dan satwa liar. Penataan kawasan penyangga, edukasi warga, serta sistem peringatan dini dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang.
Konflik Manusia dan Satwa Kian Nyata
Kasus teror ayam di Bangbayang mencerminkan konflik manusia dan satwa liar yang semakin nyata, terutama di wilayah yang berbatasan dengan hutan. Perlu keseimbangan antara perlindungan lingkungan dan keamanan masyarakat agar keduanya dapat berjalan beriringan.
Warga Bangbayang berharap kejadian ini menjadi perhatian serius, sehingga langkah pencegahan dapat segera dilakukan. Dengan penanganan yang tepat, masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan tenang tanpa dihantui rasa takut akan serangan hewan liar di malam hari.

Cek Juga Artikel Dari Platform hotviralnews.web.id
