petanimal.org Penyakit scabies atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai kudis hewan menjadi kasus kesehatan ternak paling banyak ditangani oleh Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Tana Tidung sepanjang tahun terakhir. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena sifat penyakit yang mudah menular serta berdampak langsung terhadap produktivitas ternak dan kenyamanan peternak.
Scabies merupakan penyakit kulit yang menyerang hewan melalui infestasi tungau mikroskopis. Penyakit ini menimbulkan rasa gatal hebat, kerontokan bulu, luka pada kulit, hingga penurunan kondisi fisik hewan apabila tidak segera ditangani.
Kasus Scabies Mendominasi Layanan Kesehatan Hewan
Berdasarkan catatan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan, jumlah hewan yang terjangkit scabies tercatat paling tinggi dibandingkan jenis penyakit hewan lainnya. Kasus tersebut terutama ditemukan pada kambing dan kucing peliharaan milik warga.
Dari total kunjungan layanan kesehatan hewan selama setahun, hampir setengahnya berkaitan langsung dengan penanganan scabies. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit kulit masih menjadi persoalan utama dalam sistem pemeliharaan ternak di wilayah tersebut.
Penanganan Dilakukan Sejak Awal Ditemukan
Pemerintah daerah melalui petugas kesehatan hewan telah melakukan tindakan pengobatan sejak kasus pertama teridentifikasi. Pengobatan dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan tingkat keparahan infeksi pada masing-masing hewan.
Meski demikian, proses pemulihan penyakit scabies membutuhkan waktu yang relatif panjang. Hewan yang terjangkit tidak dapat sembuh secara instan, sehingga perlu pengawasan berkelanjutan.
Masa Pemulihan Butuh Pengawasan Ketat
Petugas kesehatan hewan menegaskan bahwa meskipun gejala mulai berkurang, hewan yang telah diobati tetap harus berada dalam pengawasan. Masa pemulihan merupakan fase penting untuk memastikan tungau penyebab penyakit benar-benar hilang.
Apabila hewan dilepas terlalu cepat, risiko kambuh dan penularan ulang menjadi sangat besar.
Sosialisasi Intensif kepada Peternak
Selain melakukan pengobatan, Dinas Pertanian juga gencar memberikan edukasi langsung kepada para peternak. Sosialisasi dilakukan di kandang, kelompok ternak, serta wilayah yang memiliki angka kasus tinggi.
Peternak diimbau agar tidak melepas hewan yang sedang menjalani pengobatan, meskipun sudah terlihat lebih sehat secara fisik.
Risiko Penularan Antar Ternak Sangat Tinggi
Scabies memiliki tingkat penularan yang cepat, terutama ketika hewan terinfeksi bercampur dengan ternak lain. Kontak langsung maupun penggunaan kandang bersama dapat mempercepat penyebaran penyakit.
Karena itu, isolasi sementara hewan yang terjangkit menjadi langkah penting dalam memutus rantai penularan.
Potensi Menular ke Manusia
Penyakit scabies tidak hanya berdampak pada hewan, tetapi juga berpotensi menular ke manusia. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi atau lingkungan kandang yang tercemar.
Gejala pada manusia umumnya berupa gatal hebat dan ruam pada kulit, sehingga kewaspadaan sangat diperlukan.
Imbauan bagi Masyarakat dan Peternak
Masyarakat yang beraktivitas di sekitar kandang ternak terjangkit disarankan untuk menjaga kebersihan diri. Setelah berkunjung ke kandang, warga dianjurkan segera mandi dan mengganti pakaian sebelum melakukan aktivitas lain.
Langkah sederhana ini dinilai efektif dalam mencegah penularan penyakit ke lingkungan rumah.
Prosedur Ketat bagi Petugas Lapangan
Petugas kesehatan hewan yang turun langsung ke lapangan juga diwajibkan menerapkan standar pengamanan. Penggunaan alat pelindung diri, menjaga kebugaran tubuh, serta membersihkan diri setelah melakukan pengobatan menjadi prosedur wajib.
Langkah tersebut bertujuan melindungi petugas sekaligus mencegah penyebaran penyakit antar lokasi.
Desa dengan Kasus Tertinggi
Berdasarkan pendataan, kasus scabies paling banyak ditemukan di sejumlah desa seperti Bebatu, Bandan Bikis, Sebidai, Sepala Dalung, Sesayap Selor, Tideng Pale, dan Tideng Pale Timur.
Wilayah-wilayah tersebut menjadi prioritas pengawasan agar penyakit tidak meluas ke desa lain.
Faktor Penyebab Munculnya Scabies
Munculnya kasus scabies dipicu oleh beberapa faktor utama. Salah satunya adalah masuknya ternak dari luar daerah tanpa pemeriksaan kesehatan yang memadai.
Selain itu, kondisi kandang yang kotor, lembap, dan jarang dibersihkan turut mempercepat perkembangan tungau penyebab penyakit.
Aktivitas Jual Beli Ternak Perlu Pengawasan
Perdagangan ternak juga menjadi faktor yang berkontribusi terhadap penyebaran scabies. Perpindahan hewan tanpa karantina dan pemeriksaan kesehatan dapat membawa penyakit ke wilayah baru.
Oleh karena itu, pengawasan lalu lintas ternak menjadi perhatian penting pemerintah daerah.
Monitoring Berkala Terus Dilakukan
Sebagai langkah lanjutan, Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan akan melakukan pemantauan hasil pengobatan secara berkala. Monitoring direncanakan dilakukan setiap enam bulan untuk memastikan kondisi ternak benar-benar pulih.
Pendekatan ini bertujuan menciptakan sistem pengendalian penyakit hewan yang berkelanjutan.
Pentingnya Peran Peternak dalam Pencegahan
Keberhasilan penanganan scabies tidak hanya bergantung pada petugas, tetapi juga peran aktif peternak. Kebersihan kandang, pemisahan hewan sakit, serta kepatuhan terhadap anjuran petugas menjadi kunci utama.
Dengan kerja sama yang baik, risiko penyebaran penyakit dapat ditekan secara signifikan.
Penutup
Scabies menjadi penyakit hewan yang paling dominan ditangani di Kabupaten Tana Tidung sepanjang tahun terakhir. Meski penanganan telah dilakukan sejak awal, sifat penyakit yang mudah menular menuntut kewaspadaan berkelanjutan.
Melalui pengobatan rutin, edukasi peternak, kebersihan kandang, serta pengawasan lalu lintas ternak, pemerintah daerah berharap kasus scabies dapat dikendalikan dan kesehatan hewan ternak tetap terjaga demi keberlanjutan sektor peternakan masyarakat.

Cek Juga Artikel Dari Platform mabar.online
