petanimal.org Rabies merupakan penyakit infeksi serius yang menyerang sistem saraf pusat dan hampir selalu berujung fatal apabila tidak ditangani dengan cepat. Penyakit ini telah lama menjadi perhatian kesehatan global karena sifatnya yang mematikan serta kemampuannya menular dari hewan ke manusia. Meski kasus rabies dapat dicegah, tingkat kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit ini masih perlu terus ditingkatkan.
Selama ini, rabies sering diidentikkan dengan gigitan anjing. Anggapan tersebut memang tidak sepenuhnya keliru, mengingat anjing menjadi sumber utama penularan rabies di banyak wilayah. Namun, fokus hanya pada anjing sering membuat masyarakat lupa bahwa virus rabies sebenarnya dapat menginfeksi berbagai jenis hewan lain. Kunci penting yang perlu dipahami adalah bahwa rabies hanya menyerang mamalia, yaitu hewan berdarah panas.
Mengapa Rabies Hanya Menyerang Mamalia
Virus rabies memiliki karakteristik biologis yang membuatnya hanya mampu hidup dan berkembang dalam tubuh mamalia. Sistem saraf mamalia menyediakan lingkungan yang sesuai bagi virus untuk bereplikasi dan menyebar hingga mencapai otak. Setelah mencapai sistem saraf pusat, virus akan menyebabkan kerusakan yang bersifat permanen dan fatal.
Hewan non-mamalia seperti burung, ikan, reptil, dan amfibi tidak dapat terinfeksi rabies. Sistem fisiologis mereka tidak mendukung siklus hidup virus rabies. Inilah alasan mengapa rabies secara eksklusif hanya ditemukan pada hewan berdarah panas dari kelompok mamalia.
Anjing Masih Menjadi Sumber Risiko Terbesar
Anjing tetap menjadi pembawa rabies yang paling sering ditemukan dalam kasus penularan ke manusia. Interaksi yang sangat dekat antara manusia dan anjing, baik sebagai hewan peliharaan maupun anjing liar, meningkatkan risiko penularan melalui gigitan atau luka terbuka yang terkena air liur.
Kurangnya vaksinasi pada populasi anjing menjadi faktor utama penyebaran rabies. Oleh karena itu, program vaksinasi massal anjing dianggap sebagai strategi paling efektif dalam menekan angka rabies secara luas.
Hewan Mamalia Lain yang Dapat Menularkan Rabies
Selain anjing, terdapat berbagai mamalia lain yang juga berpotensi menjadi pembawa virus rabies. Kucing merupakan salah satu contohnya. Meskipun kasus rabies pada kucing tidak sebanyak pada anjing, risiko penularan tetap ada, terutama pada kucing yang sering berkeliaran di luar rumah dan berinteraksi dengan hewan liar.
Hewan ternak seperti sapi, kambing, kuda, dan domba juga dapat terinfeksi rabies. Biasanya, infeksi terjadi setelah hewan-hewan ini digigit oleh mamalia lain yang membawa virus rabies. Walaupun jarang menjadi sumber penularan langsung ke manusia, kasus rabies pada hewan ternak menandakan adanya virus rabies yang beredar di suatu wilayah.
Peran Hewan Liar dalam Siklus Rabies
Hewan liar memegang peran penting dalam penyebaran rabies di alam. Beberapa jenis mamalia liar dikenal sebagai reservoir alami virus rabies. Kelelawar menjadi salah satu contoh yang paling sering dibahas, terutama di sejumlah negara.
Selain kelelawar, hewan liar seperti rubah, rakun, sigung, dan serigala juga dapat membawa virus rabies. Kontak dengan hewan-hewan ini, baik melalui gigitan maupun luka terbuka yang terkena air liur, berpotensi menularkan rabies ke manusia atau hewan lain. Karena sulit dikendalikan, rabies pada hewan liar menjadi tantangan besar dalam upaya pencegahan.
Cara Rabies Menular ke Manusia
Penularan rabies ke manusia umumnya terjadi melalui gigitan hewan mamalia yang terinfeksi. Virus masuk ke tubuh melalui luka terbuka dan kemudian bergerak melalui jaringan saraf menuju otak. Proses ini bisa berlangsung dalam waktu yang berbeda-beda, tergantung pada lokasi gigitan dan jumlah virus yang masuk ke dalam tubuh.
Selain gigitan, rabies juga dapat menular melalui cakaran atau kontak air liur dengan luka terbuka. Meskipun lebih jarang, cara penularan ini tetap perlu diwaspadai, terutama saat berinteraksi dengan hewan yang menunjukkan perilaku tidak normal atau agresif.
Gejala Rabies yang Perlu Diwaspadai
Pada tahap awal, gejala rabies pada manusia sering kali tidak spesifik dan menyerupai penyakit ringan, seperti demam, sakit kepala, dan rasa nyeri di sekitar luka gigitan. Seiring waktu, gejala berkembang menjadi gangguan saraf yang serius, seperti kejang, halusinasi, kesulitan menelan, dan ketakutan berlebihan terhadap air.
Ketika gejala rabies sudah muncul, peluang untuk sembuh hampir tidak ada. Inilah yang membuat rabies menjadi salah satu penyakit paling mematikan yang dikenal dalam dunia medis.
Pencegahan Menjadi Langkah Paling Penting
Karena rabies bersifat fatal, pencegahan menjadi langkah utama yang harus diutamakan. Vaksinasi pada hewan peliharaan, terutama anjing dan kucing, sangat penting untuk memutus rantai penularan. Selain itu, menghindari kontak dengan hewan liar atau hewan yang menunjukkan perilaku mencurigakan juga sangat dianjurkan.
Jika seseorang tergigit atau terluka akibat hewan mamalia, langkah pertama yang harus dilakukan adalah segera membersihkan luka dengan air mengalir dan sabun. Setelah itu, pertolongan medis harus segera dicari untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Kesadaran Publik Kunci Pengendalian Rabies
Rabies bukan hanya masalah individu, tetapi juga masalah kesehatan masyarakat. Pemahaman bahwa penyakit ini dapat dibawa oleh berbagai jenis mamalia berdarah panas perlu terus disebarluaskan. Dengan kesadaran yang lebih baik, masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat dan berperan aktif dalam pengendalian rabies.
Melalui edukasi, vaksinasi, dan kewaspadaan bersama, risiko penularan rabies dapat ditekan secara signifikan. Pemahaman yang benar tentang hewan pembawa rabies menjadi kunci penting untuk melindungi diri, keluarga, dan lingkungan dari penyakit yang mematikan ini.

Cek Juga Artikel Dari Platform beritapembangunan.web.id
