petanimal.org Menjelang Ramadan dan Idulfitri, ada satu hal yang selalu menjadi perhatian besar bagi petugas kesehatan hewan, yaitu meningkatnya lalu lintas ternak. Periode ini bukan hanya soal lonjakan kebutuhan pasar, tetapi juga tentang meningkatnya risiko gangguan kesehatan hewan yang dapat berdampak luas.
Sebagai kepala Puskeswan, dua momen yang paling sering memicu kewaspadaan ekstra adalah musim hujan dan menjelang hari besar keagamaan. Keduanya hampir selalu diikuti dengan perubahan pola pemeliharaan ternak, peningkatan mobilitas hewan, serta munculnya ancaman penyakit.
Musim hujan sering memengaruhi daya tahan tubuh hewan. Perubahan cuaca yang ekstrem membuat ternak lebih rentan terserang infeksi. Sementara itu, menjelang Ramadan dan Idulfitri, kebutuhan daging meningkat sehingga pergerakan ternak dari berbagai daerah juga ikut naik.
Kondisi ini menciptakan situasi yang perlu diawasi secara serius oleh semua pihak, mulai dari peternak, pedagang, hingga pemerintah daerah.
Pergerakan Ternak Meningkat Seiring Permintaan Pasar
Dalam pengalaman lapangan, menjelang hari besar, banyak peternak dan pelaku usaha mendatangkan ternak dari luar daerah. Ada yang untuk penggemukan, ada pula yang disiapkan sebagai stok menghadapi lonjakan konsumsi.
Hal ini merupakan bagian wajar dari siklus usaha peternakan. Permintaan pasar yang tinggi mendorong distribusi hewan lebih besar dibandingkan hari-hari biasa. Namun, di balik aktivitas ekonomi tersebut, ada potensi risiko yang tidak boleh diabaikan.
Semakin tinggi mobilitas ternak, semakin besar peluang penyebaran penyakit antarwilayah. Hewan yang terlihat sehat belum tentu bebas dari infeksi. Beberapa penyakit menular memiliki masa inkubasi, sehingga gejalanya baru muncul setelah hewan berpindah lokasi.
Karena itu, pengawasan lalu lintas hewan menjadi salah satu aspek paling krusial dalam menjaga kesehatan ternak nasional.
Risiko Penyakit Menular Semakin Tinggi
Lalu lintas ternak yang tidak terkontrol dapat menjadi pintu masuk penyebaran penyakit hewan menular. Penyakit seperti PMK, antraks, brucellosis, hingga rabies pada hewan tertentu dapat menyebar lebih cepat ketika mobilitas meningkat.
Selain berdampak pada ternak, beberapa penyakit juga bersifat zoonosis, artinya dapat menular ke manusia. Ini menjadikan pengawasan kesehatan hewan bukan hanya isu peternakan, tetapi juga bagian dari perlindungan kesehatan masyarakat.
Kesehatan hewan sangat berkaitan dengan keamanan pangan. Daging yang berasal dari ternak sakit atau tidak diperiksa dapat menimbulkan risiko serius bagi konsumen.
Oleh sebab itu, setiap peningkatan distribusi ternak harus dibarengi dengan pemeriksaan ketat dan kepatuhan terhadap aturan kesehatan hewan.
Pentingnya Surat Keterangan Kesehatan Hewan
Salah satu instrumen penting dalam pengawasan lalu lintas ternak adalah Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Dokumen ini menjadi bukti bahwa hewan telah diperiksa dan dinyatakan sehat sebelum dipindahkan.
Peternak dan pedagang wajib memastikan bahwa hewan yang dikirim antarwilayah memiliki dokumen resmi. SKKH bukan sekadar formalitas, tetapi bentuk perlindungan agar penyakit tidak menyebar.
Puskeswan dan dinas terkait biasanya melakukan pemeriksaan fisik, pengecekan riwayat vaksinasi, serta memastikan kondisi hewan layak angkut.
Tanpa dokumen ini, pergerakan ternak menjadi lebih berisiko dan sulit dilacak jika terjadi wabah.
Peran Puskeswan dalam Pengawasan Lapangan
Puskeswan memiliki peran penting sebagai garda terdepan layanan kesehatan hewan di tingkat kecamatan dan desa. Menjelang Ramadan dan Idulfitri, aktivitas petugas biasanya meningkat.
Pemeriksaan ternak di pasar hewan, kandang penggemukan, serta jalur distribusi menjadi agenda rutin. Petugas juga melakukan edukasi kepada peternak agar memahami pentingnya biosekuriti dan vaksinasi.
Selain itu, Puskeswan berperan dalam pelaporan cepat jika ditemukan kasus penyakit menular. Respons cepat sangat penting agar penyebaran dapat dicegah sejak awal.
Kolaborasi antara peternak dan petugas kesehatan hewan menjadi kunci keberhasilan pengawasan.
Edukasi Peternak dan Pelaku Usaha Sangat Dibutuhkan
Pengawasan lalu lintas hewan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Kesadaran peternak dan pelaku usaha menjadi faktor utama.
Peternak perlu memastikan kebersihan kandang, memberikan pakan yang cukup, serta melakukan vaksinasi sesuai jadwal. Pelaku usaha juga harus bertanggung jawab dalam proses distribusi, termasuk memastikan hewan tidak stres selama perjalanan.
Transportasi yang buruk dapat menurunkan imunitas hewan. Hewan yang stres lebih mudah terserang penyakit, bahkan jika sebelumnya sehat.
Dengan edukasi yang baik, pelaku usaha dapat memahami bahwa kesehatan hewan adalah investasi jangka panjang, bukan beban tambahan.
Menjaga Stabilitas Pasokan dan Keamanan Pangan
Menjelang hari besar, kebutuhan daging meningkat tajam. Pemerintah perlu menjaga stabilitas pasokan agar harga tetap terkendali. Namun, stabilitas tidak boleh mengorbankan aspek kesehatan.
Keamanan pangan harus tetap menjadi prioritas. Daging yang aman berasal dari ternak sehat, proses pemotongan yang higienis, serta distribusi yang terkontrol.
Pengawasan lalu lintas hewan membantu memastikan bahwa kebutuhan masyarakat terpenuhi tanpa menimbulkan ancaman wabah penyakit.
Dengan sistem yang baik, peningkatan konsumsi saat Ramadan dan Idulfitri dapat dihadapi dengan aman dan tertib.
Penutup
Menjelang Ramadan dan Idulfitri, lalu lintas ternak meningkat seiring naiknya permintaan pasar. Kondisi ini wajar dalam siklus peternakan, namun juga membawa risiko kesehatan hewan yang lebih tinggi.
Pengawasan ketat, pemeriksaan kesehatan, serta kepatuhan pada dokumen resmi seperti SKKH menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran penyakit. Peran Puskeswan, pemerintah daerah, peternak, dan pelaku usaha harus berjalan bersama.
Dengan kewaspadaan dan koordinasi yang baik, pergerakan ternak dapat tetap mendukung kebutuhan masyarakat tanpa mengorbankan kesehatan hewan dan keamanan pangan.

Cek Juga Artikel Dari Platform medianews.web.id
