Israel kembali menegaskan pandangannya bahwa program rudal balistik Iran merupakan ancaman serius bagi keamanan nasionalnya. Dalam beberapa pekan terakhir, isu ini kembali menguat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Israel menyatakan keinginannya untuk menghentikan atau bahkan menghancurkan kemampuan rudal balistik Iran. Israel menilai sistem persenjataan tersebut dapat menjangkau wilayahnya, termasuk kota-kota strategis seperti Tel Aviv.
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa isu keamanan regional tidak hanya berkaitan dengan konflik langsung, tetapi juga persaingan kekuatan militer antarnegara yang dapat memicu eskalasi lebih luas.
Di sisi lain, Iran berulang kali menegaskan bahwa program rudalnya merupakan bagian dari pertahanan nasional dan tidak melanggar ketentuan internasional. Iran juga menyatakan bahwa pengembangan teknologi militernya dilakukan untuk menjaga kedaulatan negara.
Rudal Balistik Jadi Sorotan Ketegangan Kawasan
Program rudal balistik Iran telah lama menjadi perhatian negara-negara Barat dan Israel. Rudal balistik memiliki kemampuan menjangkau jarak jauh, sehingga dianggap sebagai elemen penting dalam strategi pertahanan maupun deterrence (pencegahan serangan).
Israel memandang kemampuan rudal Iran sebagai potensi ancaman karena jarak geografis yang memungkinkan rudal tersebut mencapai wilayah Israel.
Situasi ini menambah kompleksitas konflik geopolitik di Timur Tengah, yang selama beberapa dekade diwarnai persaingan politik, keamanan, dan pengaruh regional.
Israel Klaim Siap Bertindak Sendiri
Israel menyatakan bahwa mereka akan bertindak sendiri jika Iran dianggap melewati batas tertentu. Pernyataan semacam ini sering muncul dalam kebijakan keamanan Israel yang menekankan pencegahan ancaman sebelum berkembang lebih jauh.
Namun, pernyataan tindakan sepihak juga menimbulkan kekhawatiran internasional karena dapat memicu eskalasi militer yang lebih luas.
Banyak pihak menilai bahwa tindakan semacam ini berisiko memperburuk stabilitas kawasan dan memperbesar potensi konflik terbuka.
Perspektif Pengamat Timur Tengah
Analis Timur Tengah Dina Sulaeman menilai bahwa Israel secara konsisten tidak menginginkan Iran menjadi negara yang kuat dalam aspek teknologi nuklir maupun persenjataan rudal.
“Netanyahu itu berkali-kali ya, tidak mau ada Iran yang kuat dengan nuklirnya, tidak mau ada Iran yang kuat dengan rudalnya, karena semua itu mengancam Israel,” ujar Dina Sulaeman dalam program Metro Hari Ini Metro TV, Selasa, 10 Februari 2026.
Pandangan ini mencerminkan bagaimana rivalitas Iran dan Israel tidak hanya bersifat militer, tetapi juga menyangkut keseimbangan kekuatan regional.
Program Iran dan Perdebatan Hukum Internasional
Iran menyatakan bahwa program rudalnya tidak melanggar aturan internasional. Dalam konteks hukum global, program rudal balistik memang menjadi perdebatan karena tidak selalu secara eksplisit dilarang, berbeda dengan senjata nuklir yang diatur dalam perjanjian non-proliferasi.
Iran juga menegaskan bahwa pengayaan uranium dilakukan dalam kerangka perjanjian internasional yang telah disepakati, meskipun isu ini terus menjadi sorotan dalam diplomasi global.
Perbedaan interpretasi inilah yang membuat ketegangan antara Iran, Israel, dan negara-negara lain terus berlanjut.
Dampak bagi Stabilitas Timur Tengah
Ketegangan Iran-Israel berpotensi berdampak luas bagi stabilitas Timur Tengah. Kawasan ini merupakan salah satu wilayah paling strategis di dunia, baik dari sisi geopolitik maupun energi.
Jika eskalasi meningkat, dampaknya dapat meluas pada:
- Keamanan negara-negara tetangga
- Jalur perdagangan internasional
- Harga energi global
- Krisis kemanusiaan akibat konflik
- Ketidakpastian diplomatik di forum internasional
Karena itu, banyak pihak internasional mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi dan dialog.
Diplomasi dan Risiko Eskalasi
Isu rudal balistik dan program nuklir Iran selama ini menjadi bagian dari perundingan internasional yang melibatkan berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan lembaga internasional.
Namun, ketika salah satu pihak menyatakan kemungkinan bertindak sepihak, jalur diplomasi menjadi semakin sulit.
Diplomasi membutuhkan kesepakatan bersama, sedangkan tindakan sepihak sering kali menimbulkan reaksi balasan yang dapat memperbesar konflik.
Kekhawatiran Dunia Internasional
Masyarakat internasional umumnya mengkhawatirkan potensi konflik langsung antara Iran dan Israel. Kedua negara memiliki pengaruh besar di kawasan, sehingga konflik terbuka dapat memicu ketegangan yang lebih luas.
Forum internasional terus mendorong agar semua pihak menahan diri dan memprioritaskan dialog.
Dalam konteks global, stabilitas Timur Tengah juga sangat memengaruhi situasi ekonomi dan keamanan dunia.
Penutup
Israel kembali menegaskan bahwa rudal balistik Iran dianggap sebagai ancaman keamanan dan menyatakan kesiapan untuk bertindak jika Iran melewati batas yang mereka tetapkan. Sementara itu, Iran menyatakan bahwa program rudalnya merupakan bagian dari pertahanan nasional dan tidak melanggar aturan internasional.
Pengamat menilai ketegangan ini mencerminkan rivalitas geopolitik yang panjang antara kedua negara. Situasi ini juga memperumit stabilitas kawasan Timur Tengah, sehingga banyak pihak berharap jalur diplomasi tetap menjadi pilihan utama untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih besar.
Baca juga : 5 Fakta Nautilus, Fosil Hidup Cantik dari Laut Purba
Cek Juga Artikel Dari Platform : footballinfo

