petanimal.org Jika diperhatikan secara luas, perbedaan usia harapan hidup antara jantan dan betina bukan hanya terjadi pada manusia. Di hampir seluruh kerajaan hewan, jantan cenderung memiliki umur lebih pendek dibanding betina. Fenomena ini sudah lama menjadi perhatian para ilmuwan, karena muncul secara konsisten lintas spesies, habitat, dan sistem reproduksi.
Selama bertahun-tahun, perbedaan ini kerap dikaitkan dengan faktor perilaku semata, seperti kecenderungan jantan lebih agresif, lebih sering berkonflik, atau mengambil risiko tinggi. Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa penyebabnya jauh lebih kompleks dan berakar pada mekanisme biologis serta evolusi jangka panjang.
Riset Skala Besar Ungkap Pola Evolusi
Untuk memahami fenomena ini secara menyeluruh, sekelompok peneliti dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology melakukan analisis besar-besaran terhadap lebih dari seribu spesies hewan. Penelitian ini mencakup mamalia, burung, reptil, hingga beberapa kelompok hewan lain dengan sistem reproduksi yang berbeda-beda.
Hasil kajian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science Advances dan menjadi salah satu studi paling komprehensif dalam membahas perbedaan usia berdasarkan jenis kelamin. Fokus utama penelitian ini adalah mengidentifikasi pola evolusioner yang secara konsisten membuat jantan lebih rentan mengalami kematian dini.
Peran Genetik: Kutukan Kromosom Seks
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini berkaitan dengan perbedaan kromosom seks. Pada banyak spesies, betina memiliki dua kromosom seks yang sama, sementara jantan hanya memiliki satu kromosom utama yang aktif. Kondisi ini membuat jantan lebih rentan terhadap mutasi genetik yang merugikan.
Pada betina, keberadaan dua kromosom yang sejenis memungkinkan satu kromosom “menutupi” cacat genetik pada kromosom lainnya. Sebaliknya, jantan tidak memiliki cadangan tersebut. Akibatnya, mutasi yang berdampak buruk lebih mudah mengekspresikan efek negatifnya pada tubuh jantan, termasuk yang berkaitan dengan sistem kekebalan dan penuaan sel.
Hormon dan Biaya Fisiologis Reproduksi
Selain faktor genetik, hormon juga memainkan peran besar. Hormon testosteron, yang dominan pada jantan, memiliki fungsi penting dalam pembentukan karakteristik seksual dan perilaku kompetitif. Namun, hormon ini juga membawa konsekuensi biologis.
Testosteron terbukti dapat menekan sistem imun, meningkatkan peradangan, serta mempercepat keausan sel. Dalam konteks evolusi, tubuh jantan “memilih” untuk mengalokasikan energi pada reproduksi dan kompetisi, bukan pada pemeliharaan jangka panjang tubuh. Akibatnya, proses penuaan berjalan lebih cepat dibanding betina.
Sebaliknya, hormon estrogen pada betina justru memiliki efek protektif, termasuk menjaga kesehatan pembuluh darah dan memperkuat respons imun. Ini menjadi salah satu alasan mengapa betina memiliki ketahanan biologis yang lebih baik terhadap penyakit.
Strategi Evolusi: Menang Cepat atau Bertahan Lama
Dari sudut pandang evolusi, umur panjang bukanlah tujuan utama semua makhluk hidup. Yang terpenting adalah keberhasilan meneruskan gen ke generasi berikutnya. Dalam banyak spesies, strategi jantan adalah “menang cepat”: tumbuh cepat, bersaing keras, dan bereproduksi sebanyak mungkin dalam waktu singkat.
Strategi ini sangat kontras dengan betina, yang secara evolusioner harus bertahan hidup lebih lama karena perannya dalam kehamilan, melahirkan, dan merawat keturunan. Seleksi alam pun “menginvestasikan” lebih banyak sumber daya biologis pada tubuh betina agar dapat hidup lebih panjang dan stabil.
Akibatnya, jantan cenderung “dikorbankan” oleh sistem evolusi demi keberhasilan reproduksi spesies secara keseluruhan.
Perilaku Berisiko Memperparah Dampak Biologis
Walaupun faktor genetik dan hormonal menjadi akar utama, perilaku tetap memperparah perbedaan usia ini. Pada banyak spesies, jantan lebih sering terlibat dalam perkelahian, perebutan pasangan, atau aktivitas berbahaya. Perilaku ini meningkatkan risiko cedera, infeksi, dan kematian dini.
Namun penting dicatat, penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun perilaku berperan, perbedaan usia tetap muncul bahkan pada spesies dengan tingkat agresivitas rendah. Artinya, faktor biologis tetap menjadi fondasi utama.
Konsistensi Lintas Spesies Jadi Bukti Kuat
Salah satu kekuatan utama studi ini adalah konsistensi temuan lintas lebih dari seribu spesies. Baik pada hewan darat, udara, maupun air, pola yang sama terus berulang: jantan hidup lebih singkat dibanding betina.
Konsistensi ini memperkuat kesimpulan bahwa perbedaan usia bukan fenomena kebetulan atau budaya, melainkan hasil dari proses evolusi jutaan tahun yang membentuk tubuh jantan dan betina dengan prioritas biologis yang berbeda.
Implikasi bagi Ilmu Pengetahuan dan Kesehatan
Temuan ini tidak hanya penting bagi biologi evolusi, tetapi juga memiliki implikasi luas dalam bidang kesehatan dan kedokteran. Memahami mengapa jantan lebih rentan terhadap penyakit dan penuaan dapat membantu pengembangan strategi pencegahan yang lebih tepat sasaran, baik pada manusia maupun hewan.
Selain itu, riset ini mengingatkan bahwa perbedaan biologis antara jantan dan betina perlu dipertimbangkan secara serius dalam penelitian medis, bukan diperlakukan sebagai variabel sampingan.
Penutup
Fakta bahwa hewan jantan cenderung hidup lebih pendek dari betina bukanlah mitos, melainkan pola biologis yang telah teruji secara ilmiah. Kombinasi faktor genetik, hormonal, strategi evolusi, dan perilaku membentuk sistem di mana tubuh jantan lebih rentan terhadap penuaan dan kematian dini.
Melalui riset berskala besar, para ilmuwan kini semakin memahami bahwa perbedaan umur ini adalah “harga evolusi” yang dibayar jantan demi keberhasilan reproduksi spesies. Sebuah pengingat bahwa alam selalu bekerja dengan logika efisiensi, bukan keadilan.

Cek Juga Artikel Dari Platform rumahjurnal.online
