petanimal.org Kemunculan seekor mamalia laut yang diduga pesut Mahakam di perairan Kabupaten Asahan menghebohkan masyarakat. Video yang memperlihatkan hewan tersebut berenang di perairan Desa Sei Paham dengan cepat menyebar di media sosial dan memunculkan berbagai spekulasi.
Banyak warganet menduga hewan tersebut adalah pesut Mahakam, satwa langka yang selama ini dikenal sebagai ikon Sungai Mahakam di Kalimantan Timur. Namun, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) memberikan penjelasan berbeda setelah melakukan pengamatan awal terhadap lokasi dan karakteristik hewan yang terlihat dalam video.
Klarifikasi dari BKSDA
Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah Kisaran, Suyono, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil pengamatan awal, hewan yang muncul di perairan Asahan tersebut kuat dugaan bukan pesut Mahakam.
Menurutnya, hewan tersebut lebih mengarah pada jenis lumba-lumba berwarna putih yang masuk ke perairan sungai dari laut lepas. Hal ini didasarkan pada analisis peta digital dan karakter wilayah tempat hewan tersebut ditemukan.
BKSDA menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin terburu-buru menyimpulkan sebelum dilakukan kajian lebih lanjut.
Jarak dari Laut Lepas Jadi Petunjuk
Salah satu faktor utama yang menjadi dasar analisis adalah jarak lokasi kemunculan hewan tersebut dengan laut lepas. Berdasarkan pemetaan digital, lokasi di Sungai Paham hanya berjarak sekitar 11 kilometer dari Muara Bagan Asahan yang terhubung langsung ke Selat Malaka.
Jarak tersebut dinilai masih memungkinkan bagi mamalia laut seperti lumba-lumba untuk berenang masuk ke perairan sungai, terutama ketika kondisi arus, pasang surut, dan ketersediaan makanan mendukung.
Fenomena ini bukan hal baru dan pernah terjadi di sejumlah wilayah pesisir Indonesia.
Perbedaan Pesut Mahakam dan Lumba-Lumba
BKSDA menjelaskan bahwa pesut Mahakam memiliki karakteristik yang berbeda dengan lumba-lumba laut. Pesut Mahakam merupakan spesies air tawar yang hidup menetap di Sungai Mahakam dan tidak bermigrasi ke laut.
Selain itu, pesut Mahakam memiliki warna tubuh abu-abu cenderung gelap, bentuk moncong yang khas, serta perilaku yang berbeda dengan lumba-lumba laut.
Sementara hewan dalam video terlihat berwarna lebih terang dan memiliki gerakan khas lumba-lumba yang biasa hidup di perairan asin.
Satwa Endemik yang Sangat Dilindungi
Pesut Mahakam merupakan satwa endemik Kalimantan Timur dan termasuk dalam kategori sangat terancam punah. Populasinya diperkirakan hanya tersisa puluhan ekor.
Karena statusnya yang kritis, keberadaan pesut Mahakam sangat diawasi dan jarang berpindah dari habitat alaminya. Oleh sebab itu, kemunculan pesut Mahakam di wilayah Sumatera dinilai sangat kecil kemungkinannya.
BKSDA menegaskan bahwa hingga kini tidak pernah ada catatan ilmiah tentang pesut Mahakam bermigrasi lintas pulau.
Fenomena Mamalia Laut Masuk Sungai
Kemunculan lumba-lumba di sungai sebenarnya pernah terjadi di berbagai daerah Indonesia. Mamalia laut dapat masuk ke muara sungai karena beberapa faktor, seperti mengejar ikan, perubahan arus laut, atau gangguan lingkungan di habitat aslinya.
Dalam kondisi tertentu, lumba-lumba dapat bertahan di perairan payau hingga tawar untuk sementara waktu sebelum kembali ke laut.
Namun, jika terlalu lama berada di sungai, satwa tersebut berisiko mengalami stres dan gangguan kesehatan.
Imbauan kepada Masyarakat
BKSDA mengimbau masyarakat agar tidak mendekati, menangkap, atau mencoba menyentuh hewan tersebut. Mamalia laut termasuk satwa yang dilindungi dan membutuhkan ruang gerak yang aman.
Pendekatan manusia dapat menyebabkan stres, mengganggu sistem navigasi sonar, hingga memicu perilaku agresif dari hewan.
Masyarakat diminta segera melapor apabila kembali melihat kemunculan hewan serupa agar petugas dapat melakukan pemantauan dan penanganan sesuai prosedur konservasi.
Potensi Ancaman bagi Satwa
Keberadaan mamalia laut di sungai memiliki sejumlah risiko. Lalu lintas kapal, jaring nelayan, dan kualitas air sungai dapat membahayakan keselamatan hewan.
BKSDA menilai pentingnya pengawasan intensif agar satwa tersebut tidak terjebak atau terluka akibat aktivitas manusia.
Jika diperlukan, upaya penggiringan kembali ke laut dapat dilakukan dengan melibatkan tim konservasi berpengalaman.
Respons Publik dan Edukasi Konservasi
Viralnya video tersebut menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap satwa langka. Namun, BKSDA mengingatkan pentingnya literasi konservasi agar informasi yang beredar tidak menimbulkan kesimpangsiuran.
Kesalahan identifikasi satwa dapat memicu kepanikan atau ekspektasi berlebihan. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan menunggu penjelasan resmi dari pihak berwenang.
Fenomena ini juga menjadi momentum edukasi tentang pentingnya menjaga ekosistem perairan.
Pentingnya Keseimbangan Ekosistem
Masuknya mamalia laut ke perairan sungai bisa menjadi sinyal adanya perubahan lingkungan, baik di laut maupun di daerah muara. Faktor pencemaran, perubahan suhu air, dan aktivitas manusia dapat memengaruhi pola pergerakan satwa.
BKSDA menilai kejadian ini sebagai pengingat bahwa keseimbangan ekosistem harus dijaga bersama.
Perlindungan habitat laut dan sungai tidak hanya penting bagi satwa, tetapi juga bagi keberlanjutan kehidupan manusia.
Penutup
Kemunculan hewan yang diduga pesut Mahakam di perairan Asahan akhirnya mendapat klarifikasi dari BKSDA. Berdasarkan pengamatan awal, hewan tersebut lebih kuat diduga sebagai lumba-lumba putih yang masuk dari laut lepas melalui muara sungai.
Meski bukan pesut Mahakam, peristiwa ini tetap menjadi perhatian penting dalam upaya konservasi satwa liar. Masyarakat diimbau tetap waspada, tidak melakukan tindakan yang membahayakan satwa, serta melaporkan setiap kemunculan kepada pihak berwenang.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa interaksi manusia dan alam harus selalu dijaga dengan pengetahuan, kehati-hatian, dan rasa tanggung jawab bersama.

Cek Juga Artikel Dari Platform jalanjalan-indonesia.com
